YOGYAKARTA – Berbagai tokoh nasional, akademisi, aktivis, dan organisasi masyarakat sipil dari berbagai daerah di Indonesia akan berkumpul dalam Konferensi Republik: Meneguhkan Civil Society Pilar Republik yang digelar di kampus Universitas Gadjah Mada (UGM), Sabtu (30/5/2026).
Forum ini menjadi ajang konsolidasi nasional masyarakat sipil untuk membahas sejumlah persoalan yang dinilai tengah dihadapi bangsa, mulai dari krisis demokrasi, ketimpangan ekonomi, melemahnya institusi strategis, hingga meningkatnya fragmentasi sosial di ruang publik.
Ketua Umum Panitia, Sudirman Said, mengatakan masyarakat sipil memiliki posisi penting dalam sejarah perjalanan Indonesia. Karena itu, menurutnya, peran tersebut perlu kembali diperkuat di tengah berbagai tantangan yang muncul dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Ia menilai berbagai perubahan besar dalam sejarah Indonesia lahir dari keterlibatan kelompok masyarakat yang aktif memperjuangkan kepentingan publik dan menghadirkan gagasan-gagasan perubahan.
Konferensi Republik akan diawali dengan pembukaan oleh Wakil Rektor UGM, Arie Sujito, kemudian dilanjutkan dengan pidato kunci dari Komaruddin Hidayat yang akan membahas hubungan masyarakat sipil dan kekuasaan dalam konteks kondisi nasional saat ini.
Selanjutnya, peserta akan mengikuti sesi pleno yang membahas empat isu utama, yakni krisis representasi demokrasi, ketimpangan ekonomi dan pelemahan basis sosial, pelemahan institusi strategis, serta fragmentasi sosial dan depolitisasi publik.
Tak hanya itu, panitia juga menyiapkan tujuh panel diskusi yang membahas berbagai tema strategis. Di antaranya model partisipasi publik, konsolidasi masyarakat sipil, keadilan ekonomi, supremasi hukum dan pemberantasan korupsi, krisis ekologi, demokratisasi pengetahuan, serta penguatan kewargaan aktif.
Sekretaris Umum Panitia, Yanuar Nugroho, menilai tantangan yang dihadapi masyarakat sipil saat ini semakin kompleks dibanding masa Reformasi. Karena itu, ia mendorong terbentuknya jaringan yang mampu menghubungkan berbagai kelompok masyarakat agar dapat bergerak secara lebih terorganisasi.
Sejumlah nama dijadwalkan hadir sebagai pembicara dalam konferensi tersebut. Mereka antara lain Alissa Wahid, Andi Widjajanto, Zainal Arifin Mochtar, Bhima Yudhistira, Titi Anggraini, Chandra Hamzah, serta sejumlah akademisi dan pegiat masyarakat sipil lainnya.
Konferensi akan ditutup oleh Ketua Dewan Guru Besar UGM, Baiquni, bersama Gita Wirjawan. Penyelenggara berharap forum tersebut menghasilkan rumusan bersama mengenai peran strategis masyarakat sipil sekaligus agenda tindak lanjut yang dapat diwujudkan untuk memperkuat demokrasi dan pembangunan Indonesia.