ARAH BEKASI- Generasi Z kini resmi menjadi kelompok penduduk terbesar di Indonesia sekaligus generasi yang paling dekat dengan perkembangan teknologi digital dan Artificial Intelligence (AI). Kombinasi dua faktor tersebut diperkirakan akan memberi pengaruh yang sangat signifikan terhadap arah perubahan sosial, budaya, ekonomi, dunia kerja hingga politik.
Berdasarkan Data Kependudukan Bersih (DKB) dinamis Direktorat Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Ditjen Dukcapil) Kementerian Dalam Negeri per 18 Mei 2026, jumlah Gen Z di Indonesia mencapai 75.250.862 jiwa atau sekitar 26 persen dari total populasi nasional sebanyak 289,7 juta penduduk.
Angka tersebut menempatkan Gen Z sebagai generasi terbesar, melampaui Milenial dan Generasi X.
Besarnya jumlah tersebut tidak hanya mencerminkan perubahan komposisi penduduk, tetapi juga menandai pergeseran demografi yang diperkirakan memengaruhi berbagai sektor.
Kondisi ini semakin relevan karena Gen Z tumbuh dalam lingkungan digital dan menjadi kelompok yang paling cepat beradaptasi dengan perkembangan teknologi baru, terutama AI.
Kecerdasan buatan tidak lagi dipandang sebagai isu teknologi yang jauh dari kehidupan sehari hari generasi muda.
Dalam beberapa tahun terakhir, AI justru semakin dekat dengan aktivitas Gen Z Indonesia, mulai dari kebutuhan pendidikan, pekerjaan, pembuatan konten hingga pengembangan sumber pendapatan tambahan.
Laporan Indonesia Millennial and Gen Z Report (IMGR) 2026 yang disusun IDN Research Institute mencatat sekitar 58 persen Gen Z Indonesia telah aktif memanfaatkan AI dalam aktivitas sehari hari.
Penggunaannya juga semakin luas, tidak lagi terbatas pada pencarian jawaban tugas atau pembuatan gambar digital. AI mulai dimanfaatkan untuk brainstorming ide, menyusun presentasi, menerjemahkan dokumen, membuat desain sederhana, menulis konten, mengedit video hingga membantu proses riset pekerjaan.
Perubahan tersebut menunjukkan AI mulai diposisikan sebagai alat pendukung produktivitas. Di ruang digital, perbincangan mengenai AI juga mengalami pergeseran.
Jika sebelumnya perhatian lebih banyak tertuju pada ancaman hilangnya pekerjaan akibat otomatisasi, kini fokus mulai bergerak pada kemampuan adaptasi dan peningkatan keterampilan.
Transformasi ini diperkirakan akan semakin terasa karena sebagian besar Gen Z saat ini berada pada fase pendidikan tinggi, memasuki dunia kerja, membangun karier maupun merintis usaha.
Dalam beberapa tahun ke depan, kelompok ini diproyeksikan menjadi mayoritas angkatan kerja produktif nasional sehingga kebutuhan terhadap keterampilan digital, literasi teknologi dan kemampuan memanfaatkan AI diperkirakan akan meningkat pesat.
Survei PwC Indonesia Hopes and Fears Survey 2026 menunjukkan sebanyak 96 persen pengguna Generative Artificial Intelligence (GenAI) harian di Indonesia mengaku mengalami peningkatan produktivitas dibanding pengguna yang lebih jarang memanfaatkan teknologi tersebut.
Dominasi Gen Z juga diperkirakan memengaruhi perubahan sosial dan budaya. Sebagai generasi yang tumbuh bersama internet dan media sosial, Gen Z memiliki karakter yang relatif adaptif terhadap teknologi serta terbiasa belajar secara mandiri melalui platform digital.
Perubahan pola komunikasi, pembentukan komunitas, hingga meningkatnya perhatian terhadap isu kesehatan mental dan pengembangan diri diperkirakan akan semakin terlihat.
Dalam sektor budaya, Gen Z tidak lagi sekadar menjadi konsumen tren. Produksi dan distribusi budaya kini banyak bergerak melalui komunitas digital dan kreator konten. Tren musik, gaya hidup, bahasa hingga pola konsumsi informasi semakin dipengaruhi ruang digital.
Sementara pada sektor ekonomi, besarnya populasi Gen Z diperkirakan mendorong pertumbuhan ekonomi digital, industri kreatif, ekonomi kreator, fintech hingga teknologi berbasis AI. Karakter konsumsi yang cenderung digital dan adaptif terhadap inovasi menjadi salah satu faktor pendorong perubahan tersebut.
Dampak serupa juga diperkirakan akan terjadi pada ranah politik. Sebagian besar Gen Z saat ini telah memasuki usia pemilih sehingga berpotensi memengaruhi strategi komunikasi politik, isu kampanye hingga arah kebijakan publik ke depan.
Penguatan komunikasi digital, penggunaan media sosial serta pendekatan berbasis isu keseharian diperkirakan akan semakin dominan dalam kontestasi politik seiring meningkatnya proporsi pemilih muda.
Meskipun demikian, perkembangan AI juga menghadirkan tantangan baru. Kekhawatiran terkait otomatisasi pekerjaan, meningkatnya persaingan kerja, risiko ketergantungan teknologi hingga penyebaran informasi palsu masih menjadi perhatian khusus.
Penelitian Universitas Katolik Parahyangan pada 2025 menunjukkan Gen Z memiliki sikap yang cukup adaptif terhadap AI, tetapi tetap menyimpan kecemasan terkait dampaknya terhadap stabilitas pekerjaan di masa depan.
Karena itu, kemampuan seperti berpikir kritis, kreativitas, komunikasi, kemampuan membaca konteks serta literasi digital diperkirakan akan semakin penting seiring percepatan transformasi teknologi dan perubahan demografi di Indonesia.