KOTA BEKASI – Kebhinekaan yang tumbuh di tengah masyarakat Kranggan dinilai menjadi modal sosial penting dalam mempertahankan kerukunan antarumat beragama di Kota Bekasi.
Wali Kota Bekasi Tri Adhianto mengatakan keberagaman tersebut telah terbentuk melalui interaksi masyarakat dengan latar belakang adat, budaya, dan keyakinan berbeda yang mampu hidup berdampingan.
Hal itu disampaikan Tri saat menghadiri perayaan Hari Ulang Tahun ke-4 Gereja Katolik Santo Stanislaus Kostka, Paroki Kranggan, Kecamatan Jatisampurna.
Menurutnya, karakter masyarakat Kranggan mencerminkan semangat Bhinneka Tunggal Ika yang menjadi salah satu fondasi kehidupan sosial di Kota Bekasi.
“Ketoleransian ini terbentuk dari adat istiadat dan keberagaman yang ada di masyarakat. Ini menjadi salah satu kekuatan Kota Bekasi sebagai kota yang menjunjung tinggi toleransi,” kata Tri.
Ia menyebut Kota Bekasi berhasil menempati peringkat kelima sebagai kota paling toleran di Indonesia pada 2025 berdasarkan pemeringkatan Setara Institute.
Capaian tersebut diharapkan dapat meningkat pada 2026. Tri menilai upaya memperkuat toleransi harus dilakukan bersama dengan melibatkan masyarakat, pemerintah, komunitas, serta seluruh kelompok keagamaan.
Pada kesempatan yang sama, Tri juga mengajak umat Kristiani memperkuat kepedulian terhadap masyarakat yang sedang tertimpa bencana di Nusa Tenggara Timur dan Kalimantan.
Selain mendoakan korban, ia mendorong warga ikut memberikan bantuan dan donasi sebagai bentuk solidaritas.
Tri menyinggung pengalaman masyarakat Kota Bekasi ketika menggalang bantuan untuk masyarakat Aceh. Menurutnya, semangat gotong royong tersebut perlu terus dipelihara.
Ia menegaskan, kota toleran tidak cukup diukur melalui sebuah peringkat. Toleransi harus terlihat dari kemampuan masyarakat menerima perbedaan sekaligus menunjukkan kepedulian kepada sesama tanpa memandang identitas maupun latar belakang.