{"id":2520,"date":"2026-06-02T16:53:53","date_gmt":"2026-06-02T16:53:53","guid":{"rendered":"https:\/\/arahbekasi.com\/?p=2520"},"modified":"2026-06-02T16:53:53","modified_gmt":"2026-06-02T16:53:53","slug":"indonesia-jadi-negara-paling-khawatir-terhadap-ancaman-ai-di-dunia-kerja","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/arahbekasi.com\/index.php\/2026\/06\/02\/indonesia-jadi-negara-paling-khawatir-terhadap-ancaman-ai-di-dunia-kerja\/","title":{"rendered":"Indonesia Jadi Negara Paling Khawatir terhadap Ancaman AI di Dunia Kerja"},"content":{"rendered":"<p><strong>ARAH BEKASI<\/strong>&#8211; Kemajuan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) terus menghadirkan perubahan besar di berbagai sektor. Mulai dari industri kreatif, layanan pelanggan, pendidikan, hingga dunia perkantoran, AI kini semakin banyak dimanfaatkan untuk meningkatkan efisiensi kerja.<\/p>\n<p>Di tengah perkembangan tersebut, muncul kekhawatiran bahwa sebagian pekerjaan manusia akan tergantikan oleh teknologi.<\/p>\n<p>Kekhawatiran itu tergambar dalam hasil survei global yang dirilis lembaga riset Ipsos melalui <em>Predictions Report 2026<\/em>. Survei yang dilakukan pada akhir 2025 itu melibatkan lebih dari 23 ribu responden dari 30 negara.<\/p>\n<p>Secara global, sebanyak 67 persen responden meyakini bahwa AI akan menyebabkan banyak pekerjaan hilang di masa depan. Angka tersebut meningkat dibandingkan tahun sebelumnya yang berada di level 64 persen.<\/p>\n<p>Indonesia menjadi negara dengan tingkat kekhawatiran tertinggi. Sebanyak 76 persen responden Indonesia menyatakan khawatir perkembangan AI akan berdampak pada berkurangnya lapangan kerja dan menggantikan sebagian peran manusia dalam dunia profesional.<\/p>\n<p>Angka yang sama juga tercatat di Singapura. Sementara Kolombia, Turki, dan Prancis berada di posisi berikutnya dengan tingkat kekhawatiran mencapai 73 persen.<\/p>\n<p>Malaysia, Afrika Selatan, dan Australia mencatat angka 72 persen. Adapun Peru dan Britania Raya masing-masing berada di angka 70 persen dan 69 persen.<\/p>\n<p>Data tersebut menunjukkan bahwa kekhawatiran terhadap AI tidak hanya dirasakan negara berkembang, tetapi juga negara-negara maju yang memiliki tingkat adopsi teknologi tinggi.<\/p>\n<p>Meski demikian, sejumlah pakar menilai AI tidak selalu identik dengan hilangnya pekerjaan. Seperti revolusi teknologi sebelumnya, kecerdasan buatan juga berpotensi menciptakan jenis pekerjaan baru yang membutuhkan keterampilan berbeda.<\/p>\n<p>Karena itu, peningkatan kompetensi digital, kemampuan beradaptasi, dan penguasaan teknologi menjadi faktor penting bagi tenaga kerja agar tetap mampu bersaing di tengah perubahan yang berlangsung cepat.<\/p>\n<p>Berikut daftar negara dengan tingkat kekhawatiran tertinggi terhadap dampak AI pada lapangan kerja:<\/p>\n<ul>\n<li>Indonesia (76 persen)<\/li>\n<li>Singapura (76 persen)<\/li>\n<li>Kolombia (73 persen)<\/li>\n<li>Turki (73 persen)<\/li>\n<li>Prancis (73 persen)<\/li>\n<li>Malaysia (72 persen)<\/li>\n<li>Afrika Selatan (72 persen)<\/li>\n<li>Australia (72 persen)<\/li>\n<li>Peru (70 persen)<\/li>\n<li>Britania Raya (69 persen)<\/li>\n<\/ul>\n<p>Perkembangan AI diperkirakan akan terus menjadi salah satu isu utama yang memengaruhi dunia kerja global dalam beberapa tahun mendatang, seiring semakin luasnya penggunaan teknologi tersebut di berbagai sektor ekonomi.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>ARAH BEKASI&#8211; Kemajuan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) terus menghadirkan perubahan besar di berbagai sektor. Mulai dari industri kreatif, layanan pelanggan, pendidikan, hingga dunia perkantoran, AI kini semakin banyak dimanfaatkan untuk meningkatkan efisiensi kerja. Di tengah perkembangan tersebut, muncul kekhawatiran bahwa sebagian pekerjaan manusia akan tergantikan oleh teknologi. Kekhawatiran itu tergambar dalam hasil [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":2521,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[41,10,13],"tags":[67,68,69],"class_list":["post-2520","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-berita","category-business","category-tech","tag-artificial-intelligence","tag-dampak-ai-pada-pekerjaan","tag-survei-ipsos"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/arahbekasi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2520","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/arahbekasi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/arahbekasi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/arahbekasi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/arahbekasi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=2520"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/arahbekasi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2520\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":2522,"href":"https:\/\/arahbekasi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2520\/revisions\/2522"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/arahbekasi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/2521"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/arahbekasi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=2520"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/arahbekasi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=2520"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/arahbekasi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=2520"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}